Model Pembiayaan Konservasi Kolektif Berbasis Agensi Kultural: Studi Kasus Perhutana (Perusahaan Hutan Tanaraya)

Authors

  • Ade Ahmad Sujai Jatiwangi art Factory Author

DOI:

https://doi.org/10.64895/svd85h92

Keywords:

Politik Ekologi, Commons, Strategi Artistik, Perhutana, collective forest

Abstract

Artikel ini menganalisis inisiatif Perhutana (Perusahaan Hutan Tanaraya) oleh Jatiwangi art Factory (JaF) sebagai model baru pembiayaan dan tata kelola ekologi di tengah tekanan industrialisasi masif. Artikel ini berfokus pada analisis strategi JaF dalam merespons alih fungsi lahan pertanian produktif menjadi kawasan industri, seperti yang terjadi di sekitar Bandara Kertajati, Majalengka. Dengan pendekatan konstruktivis dan metode studi kasus deskriptif-analitis, penelitian ini menggunakan lensa teori politik ekologi, commons, dan strategi artistik untuk membedah model inovatif Perhutana. Model ini mengakuisisi lahan terancam melalui penjualan kavling mikro (4x4 m²) dengan aturan kepemilikan kolektif (satu orang satu kavling) dan sertifikat material budaya dari tanah liat, lalu mengelolanya sebagai hutan kolektif melalui tata kelola pembentukan Dewan Adat. Temuan yang diharapkan mengungkap efektivitas strategi mimikri logika pasar real estat untuk tujuan menciptakan commons ekologis, serta potensi replikasi model modular ini di wilayah peri-urban lain. Signifikansi penelitian terletak pada kontribusinya terhadap wacana pembiayaan konservasi mandiri yang berdaulat, melampaui ketergantungan pada negara atau mekanisme pasar karbon global, dan mendemokratisasi aksi kolektif untuk ketahanan ekologis.

Downloads

Download data is not yet available.

Author Biography

  • Ade Ahmad Sujai, Jatiwangi art Factory

    Ahmad Sujai is a cultural practitioner known as a member of Jatiwangi art Factory, a community-based organization focused on examining how contemporary art and cultural practices can be contextualized with the local life in rural areas, both form or ideas. He believes that art as a vibrant meeting ground for dialogue, ignites the collective imagination and negotiates the complexities of social reality.

Additional Files

Published

31-01-2026

How to Cite

Model Pembiayaan Konservasi Kolektif Berbasis Agensi Kultural: Studi Kasus Perhutana (Perusahaan Hutan Tanaraya). (2026). CANTING: Indonesian Community Development and Social Investment Journal, 1(2). https://doi.org/10.64895/svd85h92

Similar Articles

You may also start an advanced similarity search for this article.